Membaca Rindu di Warung Lotek Bu Bagyo

: kusebut kau, Puisi

Rindu telah kusebat dengan kain pendulam gigil, kumasukkan ke dalam takaran yang cukup, yang kapan saja bisa kita jenguk.

Barangkali, rindu kita adalah jarak yang masih sama senja dan sama purnama.
Sedang langit adalah jarak terjauh oleh bumi, namun mereka mampu setia.

Apakah kau mampu membaca rindu langit dan bumi di dalam sekerat usahaku?

Nologaten, 6 Juli ’17

Iklan

Seolah Kita

: pmt.

1.
Apakah itu kau, yang tersembunyi
himpitan langit dan keringnya bumi
Antara jajar purnama yang terus dilupa
Antara hari yang kian pergi kian tua

Apakah itu yang Tuhan bisikkan, seperti
Adam dan Hawa ditemukan oleh masa
Dan apakah aku-kau juga akan lindap
dalam peluk yang masyuk kian lama?

2.
Bertahun-tahun setelah ini, mungkin
kita tak lagi menafsir ketakutan
yang tersusun di perkamen-perkamen

“Tak ada tempat sembunyi, Kasih,
sebab rambut tetap pertanda umur…”
“…sebab dunia seolah-olah angka?”

Kau mengangguk dengan peluk
Aku mendongak seakan Adam-Hawa
meraba Tuhan di Jabal Rahmah

Candi Gebang, 5 Juli ‘17

Mendengarkan Radio Malam Ini

Kota kian kabur
Lampu ruang kian padam

Di radio memutar The Classic Illustration
tepat pada lagu Darling I Love You:
Ya, aku mencintaimu. Kau tahu
bagaimana aku mencintaimu

Kita kian kabur malam ini
Maukah kau hidupkan satu lampu?
Aku ingin membaca dari kata-kata
yang senantiasa bergembira
dengan cara dukacitanya

Di radio yang penyiarnya aku kira
telah lindap ke mimpi itu, memutar
Somewhere Between dari Tumbleweeds:
Aku tidak bisa membiarkanmu pergi,
demikian kau. Tapi entah di mana
antara hatimu dan hatiku

Pintu depan telah tertutup
Baiklah, kita pakai kasut
tuk merasakan kesementaraan
sesal yang paling pejal

6 Juni, Candi Gebang

Ampir

Di bawah pohon yang daunnya serupa
bulu domba itu, tertanam selapis kabut,
selepas kalut pendakian, kusambangi lagi
Sudahilah cegukanmu, seka alir pipi yang
kian sampai ke kelok leher. Berkacalah,
Kasih, di sana tentu kau masih melihatku
sebatang yang sangat membutuhkan akar

Air dari laut akan berpulang ke laut pula
Entah itu air pernah terjebak di tubuh
yang sombong atau tabah yang ringkih
Ia tahu jalan pulang walau perlahan

Merapi, 2017

Amrih Sira Urip

: untuk Ummi

/1
Yang tergenggam dari sebuah rahim kota
adalah satu kerinduan untuk segera pulang
Sebab seorang di sana telah menunggumu
memutar gagang pintunya. Ia juga telah
usai merajut lengan yang menggenapkan.

Ibarat seekor burung menabung bertahun-tahun
kemampuan mengalahkan berbagai nama angin
supaya sampai di suatu terjal hanya untuk secuil ulat
: kota memantulkan doa-doa dari terbuka tangan
seorang ibu untuk memulangkan anaknya

Rumah, galian, dan tanahmu adalah rahim ini
Ucapnya sebelum menyelam ke setiap pejam

/2
Ranting adalah jari-jari bumi yang berusaha
menggapai langit. Belum sampai tujuan,
kehidupan yang disebut manusia telah
menegur dengan sebilah tajam atau
mengasingkan air supaya ia mati perlahan

Sedang bumi adalah serupa ibumu yang
terus berupaya berkabar dengan rantingnya
yang menggoyangkan sarangmu di ujung
telepon: Nasinya masih kan? Bersabarlah!
Suara putus-putus dihasilkan pemancar
dari suatu kampung yang jauh nan rimbun.
Jangan pulang terlalu tua, imbuhnya.

Memayu Wengi

Ada yang jatuh sebentuk air namun sulit termakan liat tanah.

Apa aku akan berkata lebih dari bunyi loteng
yang menanam aduh dari jatuhnya air langit?

Mantera membiru sebentuk bunga-bunga
yang terbang selepas kedua tangan terkatup
ke muka, lalu ada amin terbatin lantang
Walau sama-sama tahu, tapal jarak sulit
diakhiri, hingga terperam dan lebam

 

Setiap kuingat, lekat sisik-sisik harap menancap di jemari.

Serat kapas kasurku tak lagi memegas
Tidur kehilangan pejam. Kepala terus
menambah jam kerja, walau sepakat
sehari adalah dua puluh empat jam

Kutuangkan ke khalayak tubuhku
Setiap tuah ingatan yang hadir selepas
malam kehilangan gaduh, dan terus
kuingat apa yang patut kuingat, supaya
tahu selembar sarung telah cukup hangat

Kususutkan lengan yang pernah menjadi
penyangga, suatu malam, suatu yang tiba-tiba
Kumasukkan lagi mataku ke sarung persimpanan
yang sebelumnya kucuci dengan punggung tangan

 

Semua terlesaplah…

Esok ketika semua itu siap kupanen lagi
akan kubentangkan sebuah sajak yang
mampu menjamumu bagai seorang anak
kecil memancing ikan dari kolam ayahnya

Pada Suatu Aku

Kuhindari orang-orang yang memandang
atau mengenaliku dari dunia segi panjang
Yang memajang segala perihal
Lalu kuingin sekadar berbincang:
duduk di Angkringan, mendengar gelas
yang aduh di benturkan kepala sendok,
meniup seduhan teh yang mulai tawar,
melahap secuil sambal yang sedikit asin,
menertawai asin ikan teriris bagian kepalanya.

Di saat itu, kutidurkan ilmu yang bisa saja menyiapakan aku.