Ampir

Di bawah pohon yang daunnya serupa
bulu domba itu, tertanam selapis kabut,
selepas kalut pendakian, kusambangi lagi
Sudahilah cegukanmu, seka alir pipi yang
kian sampai ke kelok leher. Berkacalah,
Kasih, di sana tentu kau masih melihatku
sebatang yang sangat membutuhkan akar

Air dari laut akan berpulang ke laut pula
Entah itu air pernah terjebak di tubuh
yang sombong atau tabah yang ringkih
Ia tahu jalan pulang walau perlahan

Merapi, 2017

Amrih Sira Urip

: untuk Ummi

/1
Yang tergenggam dari sebuah rahim kota
adalah satu kerinduan untuk segera pulang
Sebab seorang di sana telah menunggumu
memutar gagang pintunya. Ia juga telah
usai merajut lengan yang menggenapkan.

Ibarat seekor burung menabung bertahun-tahun
kemampuan mengalahkan berbagai nama angin
supaya sampai di suatu terjal hanya untuk secuil ulat
: kota memantulkan doa-doa dari terbuka tangan
seorang ibu untuk memulangkan anaknya

Rumah, galian, dan tanahmu adalah rahim ini
Ucapnya sebelum menyelam ke setiap pejam

/2
Ranting adalah jari-jari bumi yang berusaha
menggapai langit. Belum sampai tujuan,
kehidupan yang disebut manusia telah
menegur dengan sebilah tajam atau
mengasingkan air supaya ia mati perlahan

Sedang bumi adalah serupa ibumu yang
terus berupaya berkabar dengan rantingnya
yang menggoyangkan sarangmu di ujung
telepon: Nasinya masih kan? Bersabarlah!
Suara putus-putus dihasilkan pemancar
dari suatu kampung yang jauh nan rimbun.
Jangan pulang terlalu tua, imbuhnya.

Memayu Wengi

Ada yang jatuh sebentuk air namun sulit termakan liat tanah.

Apa aku akan berkata lebih dari bunyi loteng
yang menanam aduh dari jatuhnya air langit?

Mantera membiru sebentuk bunga-bunga
yang terbang selepas kedua tangan terkatup
ke muka, lalu ada amin terbatin lantang
Walau sama-sama tahu, tapal jarak sulit
diakhiri, hingga terperam dan lebam

 

Setiap kuingat, lekat sisik-sisik harap menancap di jemari.

Serat kapas kasurku tak lagi memegas
Tidur kehilangan pejam. Kepala terus
menambah jam kerja, walau sepakat
sehari adalah dua puluh empat jam

Kutuangkan ke khalayak tubuhku
Setiap tuah ingatan yang hadir selepas
malam kehilangan gaduh, dan terus
kuingat apa yang patut kuingat, supaya
tahu selembar sarung telah cukup hangat

Kususutkan lengan yang pernah menjadi
penyangga, suatu malam, suatu yang tiba-tiba
Kumasukkan lagi mataku ke sarung persimpanan
yang sebelumnya kucuci dengan punggung tangan

 

Semua terlesaplah…

Esok ketika semua itu siap kupanen lagi
akan kubentangkan sebuah sajak yang
mampu menjamumu bagai seorang anak
kecil memancing ikan dari kolam ayahnya

Pada Suatu Aku

Kuhindari orang-orang yang memandang
atau mengenaliku dari dunia segi panjang
Yang memajang segala perihal
Lalu kuingin sekadar berbincang:
duduk di Angkringan, mendengar gelas
yang aduh di benturkan kepala sendok,
meniup seduhan teh yang mulai tawar,
melahap secuil sambal yang sedikit asin,
menertawai asin ikan teriris bagian kepalanya.

Di saat itu, kutidurkan ilmu yang bisa saja menyiapakan aku.

Kuceritakan Kepadamu Apa yang Ingin Kutulis di Awal Tahun Ini

Ada yang kabur dari kepalaku. Biru menuju abu-abu.
Padahal kukenal kau bagai bulir semangka yang menyelam
ke dasar sungai yang gagal termakan ikan selepas lulus dari
tekateki bubu nelayang kesorean yang mengencangkan
perut dengan menambah lubang di ikat pinggangnya.

Ada yang kabur dan mengabur dan aku tak benar
percaya bahwa burung bisa terbang di tengah badai
semalam ini dan ia mengelilingi kepala. Beberapa kali
berhenti di kening membereskan sulam bulu sayapnya.
Mataku lampu yang belum membayar tagihan, atau taman
bagi kunangkunang yang penuh menyimpan aduh.

Ada yang mengabur lalu lesap baur di kuala dadaku.
Ia telah mampat, telah cukup kuat. Telah jatuh pintar
menyiasati segala surat yang menyimpan ketakutan.

Kuendapkan kau ke rimba magribku. Entah dengan
gelasan yang sempat kita pintal, entah dengan bantal
yang menyimpan gigilmu, atau dengan mantra pelindap.

“Siapa yang mengajarkan kau cara terbang?”
Di sini, kutunggu jawabmu dan mengingat punggungmu.

Candi Gebang, 00.22. 6 Januari 2017

Menu Penutup

Bukan dari kebun lalu terbiarkan angin-angin mengiris tubuhku, bagai daging muda domba di perjamuan.
Bukan ranum bayam atau sawi atau sisik lumut pada umurku, bagai terperam lama sebagai anggurnya.

Kelewat dini atau telah senja, mohon ijinkan kututup pesta ini dengan membaringkan tubuh di atas meja makanMu.

01.09 24Nov

Peristilahan

waktu berlalu saat kita bicara
berjingkrak saat membaca
dan kembali saat menulis.
katamu, “cinta kadang-kadang
pagi tanpa bangun
senja tanpa pulang”

kupandang langit kamar
yang memar, setelah
persembahan anggur di altar
tak mampu mencurimu.
lalu kuteguh sendiri
kemudian kutiupkan prasangka,
perasaan-perasaan suka:

senyummu, lengkung terbaru
peristilahan kamus di dadaku,
arti yang sulit terdefinisi. kata
tanpa awalan dan akhiran tanda.

apa cinta mengenal istirah
bagi aku yang ladah?
bagi aku sang penziarah?

di kejauhan: kudengar, kau telah
dicuri oleh angin malam
dan menyimpanmu di hadap
rahasia.

Jakal, 2016