Suwung

Dua orang
Saling berkirim kabar

Salah satunya penyuka langit
Ia menggambar angin
Menari-nirukan daun gugur
Jatuh ke kolam ikan
Diam bagai ranting
Menenangkan sarang kutilang

Yang lain
Menggambar jalan pintas ke laut
Menjadi biru dan batu
bagi air yang bisu
Di sana ia menengadah
seakanakan melihat hujan dan Tuhan
dan doadoanya yang merangkak
tuk dikabulkan

Dua orang
Saling berkirim kabar
Tak ada surat, tak ada pesan apaapa
Selain harap dan debar

Ngropoh, 2016

Apa yang Disisakan

1/
Apa yang disisakan derit rem roda
kepada setapak jalan landai
Yang disisakan musim gersang
kepada kubang air
Yang disisakan gerak dada
dan kepala kepada ingatan

2/
Belum usai, kasih
Manakala kayuh masih ada
seperti penziarah langkah demilangkah
Menjamah tubuh bumi yang diamini langit
Yang sesekali tabah diterpa udara

Maka setiap kali mataku terpejam
umurku mundur satu demi satu
Namun malam tetaplah malam, sayang
Senja telah usai seperti perayaan pesta
Selimut perlu kita lebarkan, jendela ditutup
serta lampu yang tak seberapa cerah
perlu dipadamkan, supaya intipan pagi
mampu membangunkan

Jika buka matamu esok tak merasa pelukku,
“Apa yang disisakan katup tangan setelah
doadoa diterbangkan dan tak terkabul?”

3/
Di puisi ini, kupercayai ia akan sampai,
walau hanya merangkak.

Ngropoh, 2016

Lakon

Sesiul angin mengakhiri terbang
melesapkan sayapnya di punggungmu
Lalu kau rencanakan perjalanan baru
merancang canang menujuku

Perjumpaan adalah perjamuan antara jarak yang disepakati jauh

Kau buatku kian kecil, kala musim tak kunjung mampu aku cicil
Kau buatku kian buru, kala hujan dan senja gagal dirayu
Seperti malam tanpa bulan ini, kesalahanmu adalah kau ada

Kaukunyah rasa sakit di jalan jelaga
yang tak menandai apa-apa
Dengan sisa-sisa tenaga kau berseru, pasrah,
sebab tak ada yang sia-sia bagi penziarah

Andai sampai kau temui jalan berkerikil
lalu ada beberapa sisa buah mangga layu
Percayalah kau telah sampai di rumahku

Ngropoh, 2016

Peristilahan

waktu berlalu saat kita bicara
berjingkrak saat membaca
dan kembali saat menulis.
katamu, “cinta kadang-kadang
pagi tanpa bangun
senja tanpa pulang”

kupandang langit kamar
yang memar, setelah
persembahan anggur di altar
tak mampu mencurimu.
lalu kuteguh sendiri
kemudian kutiupkan prasangka,
perasaan-perasaan suka:

senyummu, lengkung terbaru
peristilahan kamus di dadaku,
arti yang sulit terdefinisi. kata
tanpa awalan dan akhiran tanda.

apa cinta mengenal istirah
bagi aku yang ladah?
bagi aku sang penziarah?

di kejauhan: kudengar, kau telah
dicuri oleh angin malam
dan menyimpanmu di hadap
rahasia.

Jakal, 2016

Sebungkus Senja yang Gagal Pulang

Telah dibungkusnya senja di Jogja dari awal musim dan kutunggu bungkus itu hancur sesambi kuteguk kopi yang takbisa memulihkan langkah terhadapmu.
Seperempat jam lagi malam menjadi bulat dan sejam lagi hari kembali menangis merasa gagal menemukan senja yang kaucuri itu.

Buku-buku di pinggir jogja, dikemuli kelambu. Sewarna awan kelam dan abu-abu.
Tak ada yang lebih setia, ketimbang rasa lapar yang ingin dilunasi.
Tak ada yang lebih curiga, ketimbang langkah yang ingin pulang.

Jakal, 16

Ada Bekas

ada bekas haus yang pernah kaulegakan, saat kau sebagai teguk
ada memar penyair yang kaubaca, saat aku menjadi puisi atasnya
ke sekian kalinya roda yang kutumpangi masuk di perangkapmu:
kubang air, jalan yang memanjang, juga awan memajang selimut tebal
langit menjerumuskan orang-orang di emper dan tak satu pun sudi menghitung deras
selain ingin segera membayar hutang sampai di pelukan

ada bekas hangat setelah dirayu api

Kaliurang, 16

Langit dan Matamu

1/
Langit punya gerak dan cara menyelimuti hari
Hati dimangsa kalut, dibenam segerombolan
suara wang-wong batang kelapa
Kepala melahirkan cuaca baru
bau bahu yang masih mengenang

Aku tak bisa membenahi kemuning ini, kasih
Kemungkinan-kemungkinan terburuk kening
mengistilahkan jalan pergimu

2/
Burung menggondoli padi dan ceri di halaman rumah
Sampai padi telah ditebas pemborong,
dan ceri menjadi cerita pertengkaran anak tetangga
Belum juga ditemui suara gagang pintu kausentuh

3/
Aku mengangankan kau sedang duduk murung
menatap satu dua bahkan lima pohon
bertubuh besar dari balik jendela ruang
Atau kau telah menjadi batang berdaun itu
Menghibur diri dengan liukan dibuat nasib angin seadanya
yang kemudian mematahkan satu persatu daun dan ranting
bosan menunggu rentang rindu kita

Aku lihat, langit eggan menolak menatapmu
Matamu renta, menciptakan sungai-sungai

: Langit hujan lagi