Kuceritakan Kepadamu Apa yang Ingin Kutulis di Awal Tahun Ini

Ada yang kabur dari kepalaku. Biru menuju abu-abu.
Padahal kukenal kau bagai bulir semangka yang menyelam
ke dasar sungai yang gagal termakan ikan selepas lulus dari
tekateki bubu nelayang kesorean yang mengencangkan
perut dengan menambah lubang di ikat pinggangnya.

Ada yang kabur dan mengabur dan aku tak benar
percaya bahwa burung bisa terbang di tengah badai
semalam ini dan ia mengelilingi kepala. Beberapa kali
berhenti di kening membereskan sulam bulu sayapnya.
Mataku lampu yang belum membayar tagihan, atau taman
bagi kunangkunang yang penuh menyimpan aduh.

Ada yang mengabur lalu lesap baur di kuala dadaku.
Ia telah mampat, telah cukup kuat. Telah jatuh pintar
menyiasati segala surat yang menyimpan ketakutan.

Kuendapkan kau ke rimba magribku. Entah dengan
gelasan yang sempat kita pintal, entah dengan bantal
yang menyimpan gigilmu, atau dengan mantra pelindap.

“Siapa yang mengajarkan kau cara terbang?”
Di sini, kutunggu jawabmu dan mengingat punggungmu.

Candi Gebang, 00.22. 6 Januari 2017

Menu Penutup

Bukan dari kebun lalu terbiarkan angin-angin mengiris tubuhku, bagai daging muda domba di perjamuan.
Bukan ranum bayam atau sawi atau sisik lumut pada umurku, bagai terperam lama sebagai anggurnya.

Kelewat dini atau telah senja, mohon ijinkan kututup pesta ini dengan membaringkan tubuh di atas meja makanMu.

01.09 24Nov

Peristilahan

waktu berlalu saat kita bicara
berjingkrak saat membaca
dan kembali saat menulis.
katamu, “cinta kadang-kadang
pagi tanpa bangun
senja tanpa pulang”

kupandang langit kamar
yang memar, setelah
persembahan anggur di altar
tak mampu mencurimu.
lalu kuteguh sendiri
kemudian kutiupkan prasangka,
perasaan-perasaan suka:

senyummu, lengkung terbaru
peristilahan kamus di dadaku,
arti yang sulit terdefinisi. kata
tanpa awalan dan akhiran tanda.

apa cinta mengenal istirah
bagi aku yang ladah?
bagi aku sang penziarah?

di kejauhan: kudengar, kau telah
dicuri oleh angin malam
dan menyimpanmu di hadap
rahasia.

Jakal, 2016

Sebungkus Senja yang Gagal Pulang

Telah dibungkusnya senja di Jogja dari awal musim dan kutunggu bungkus itu hancur sesambi kuteguk kopi yang takbisa memulihkan langkah terhadapmu.
Seperempat jam lagi malam menjadi bulat dan sejam lagi hari kembali menangis merasa gagal menemukan senja yang kaucuri itu.

Buku-buku di pinggir jogja, dikemuli kelambu. Sewarna awan kelam dan abu-abu.
Tak ada yang lebih setia, ketimbang rasa lapar yang ingin dilunasi.
Tak ada yang lebih curiga, ketimbang langkah yang ingin pulang.

Jakal, 16

Langit dan Matamu

1/
Langit punya gerak dan cara menyelimuti hari
Hati dimangsa kalut, dibenam segerombolan
suara wang-wong batang kelapa
Kepala melahirkan cuaca baru
bau bahu yang masih mengenang

Aku tak bisa membenahi kemuning ini, kasih
Kemungkinan-kemungkinan terburuk kening
mengistilahkan jalan pergimu

2/
Burung menggondoli padi dan ceri di halaman rumah
Sampai padi telah ditebas pemborong,
dan ceri menjadi cerita pertengkaran anak tetangga
Belum juga ditemui suara gagang pintu kausentuh

3/
Aku mengangankan kau sedang duduk murung
menatap satu dua bahkan lima pohon
bertubuh besar dari balik jendela ruang
Atau kau telah menjadi batang berdaun itu
Menghibur diri dengan liukan dibuat nasib angin seadanya
yang kemudian mematahkan satu persatu daun dan ranting
bosan menunggu rentang rindu kita

Aku lihat, langit eggan menolak menatapmu
Matamu renta, menciptakan sungai-sungai

: Langit hujan lagi

Setiap Hari Adalah Minggu

ada langit hitam miliki akal menipu bumi
burung-burung tua memaksa sayap menuju barat
pantai memeluk laut, gunung-gunung ingin disebut bukit

setiap hari dianggap minggu
sekolah hanya mengajarkan cinta dan putus asa
atau gadis cengeng yang lupa membuka jendela

percakapan kita hanya pertanyaan dijawab seadanya
tanpa kopi atau kue yang bisa menjadi alasan

dengan gerakmu sendiri, juga arah mata anginku sendiri
tercipta musim-musim yang mengakhiri penjarahan

ibarat hutan tanpa matahari dan hewan-hewan
asing terhadap udara

saat terjaga, kudapati rumah-rumah menjadi pasar
yang mengakhiri penjualbelian
sisa-sisa bau harapan dari seorang pembeli
yang sia-sia menawar dengan apapun

maaf, apa kau masih duduk manis
menunggu pembeli lain dan menyapa
“ada yang bisa membawaku pulang?”

dari kejauhan wajahmu menunggu
dan setiap hari adalah minggu

 

congcat, Februari 16